Taufik Nor dan Upaya Menyalakan Semangat Literasi di Tanah Laut

Jejakkalimantan.com, Tanah Laut – “Menulis adalah cara paling sunyi untuk meninggalkan jejak yang panjang.” Kalimat itu terasa dekat dengan perjalanan Taufik Nor dalam menjaga semangat literasi di Tanah Laut.

Di tengah pekerjaannya sebagai pengawas SD se-Kecamatan Jorong, ia tetap menyediakan ruang untuk menulis. Baginya, menulis bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan cara menyimpan pengalaman, mencatat kegelisahan, sekaligus membagikan hal-hal yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kegemarannya terhadap dunia tulis-menulis tumbuh sejak kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Taufik sudah senang mencoretkan cerita dan catatan sederhana. Memasuki masa SMP, tulisannya mulai menghiasi majalah dinding sekolah. Dari sana, ia mulai merasa bahwa apa yang ditulisnya bisa dibaca dan berarti bagi orang lain.

Dari Antologi Hingga Buku Tunggal

Perjalanan menerbitkan buku dimulai lewat sejumlah karya antologi bersama penulis lain. Namun, langkah yang paling membekas baginya datang pada 2017 saat buku tunggal pertamanya berjudul Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa terbit.

Sejak buku itu hadir, ia mulai percaya bahwa pengalaman seorang guru juga dapat menjadi sesuatu yang layak dibagikan kepada banyak pembaca.

“Dari situ jadi lebih percaya diri untuk terus menulis,” ujar Taufik.

Selain menulis buku, ia juga aktif mengirim artikel ke berbagai media massa. Salah satunya Radar Banjarmasin, terutama pada rentang 2017 hingga 2019. Setelah itu, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk dunia pendidikan dan aktivitas literasi.

Beberapa buku pun lahir dari tangannya dengan tema yang beragam. Mulai dari Naik Pangkat Apa Susahnya, Guru Sang Menantu Idola, hingga Menggapai S2 yang banyak mengambil cerita dari pengalaman menempuh pendidikan pascasarjana.

Ada pula naskah berjudul Mantan Terindah. Namun, buku itu memilih berhenti sebagai manuskrip dan belum sempat dipublikasikan.

Melahirkan Metode Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal

Tak hanya menulis cerita dan gagasan, Taufik juga menuangkan ide-ide pembelajaran ke dalam berbagai metode yang kemudian dibukukan dan digunakan para guru hingga sekarang.

Salah satunya Model APAM atau Arisan Pemecahan Masalah, metode pembelajaran berbasis kearifan lokal yang dirancang untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, ia juga mengembangkan metode pembelajaran bernama KASTURI.

Keterlibatannya di dunia pendidikan Tanah Laut juga terlihat saat dipercaya menyusun buku muatan lokal budaya Banjar bernuansa Tanah Laut untuk siswa kelas 1 hingga 6 sekolah dasar.

Buku Baru tentang Kasih Sayang dan Kehidupan Anak Muda

Kini, Taufik kembali menyiapkan buku terbaru berjudul Jangan Salah Meletakkan Kasih Sayang, Menata Hati Menuju Ridho Ilahi yang dalam waktu dekat akan diluncurkan.

Ide buku itu muncul dari pengamatannya terhadap banyak anak muda yang kerap salah menempatkan rasa sayang dalam hidup mereka.

“Kadang-kadang kasih sayang itu ditempatkan di tempat yang salah. Bukan bahagia yang didapat, malah luka di akhirat nanti,” katanya.

Buku tersebut ditulis dengan gaya bahasa sederhana dan bernuansa puitis. Taufik memilih pendekatan senandika dengan sudut pandang orang pertama.

“Cara bertutur itu membuat isi buku terasa dekat dengan kehidupan anak muda sehari-hari,” ungkapnya.

IPTL dan Harapan Menumbuhkan Budaya Literasi

Hingga kini, Taufik telah menerbitkan sembilan buku. Sementara melalui komunitas yang dipimpinnya, Ikatan Penulis Tanah Laut (IPTL), sedikitnya empat buku kolektif berhasil diterbitkan.

Menurutnya, sepanjang 2026 IPTL akan rutin menggelar penerbitan buku setiap bulan dengan tema-tema yang disepakati bersama. Promosi karya dilakukan melalui media sosial IPTL dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Tanah Laut.

Antusiasme itu terlihat dari semakin banyaknya tulisan yang masuk ke IPTL dari waktu ke waktu.

Bagi Taufik, kebiasaan membaca dan menulis perlu lebih sering dikenalkan kepada generasi muda agar budaya literasi tidak perlahan hilang.

“Harapan kami di IPTL bisa menjadi jalan dan motivasi bagi masyarakat untuk mau menulis, karena literasi kita masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak terus hadir agar ruang literasi di Tanah Laut semakin tumbuh dan tidak berhenti hanya sebagai kegiatan sesaat.

Buku-Buku yang Terus Bertemu Pembaca Baru

Menariknya, buku-buku karya Taufik dan IPTL kini juga tersedia di perpustakaan daerah Kabupaten Tanah Laut. Dari rak-rak perpustakaan itu, karya mereka dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lain, lalu bertemu pembaca baru dari waktu ke waktu.