Menanti Kembalinya Kejayaan Gunung Kayangan: Ikon Wisata Tanah Laut yang Kini “Istirahat” dari Keramaian

Jejakkalimantan.com, Pelaihari – Kondisi memprihatinkan menyelimuti salah satu ikon wisata di Kabupaten Tanah Laut, yakni Wisata Gunung Kayangan. Objek wisata yang terletak di Desa Ambungan, Kecamatan Pelaihari ini terpantau terbengkalai dan kehilangan pesonanya pada Selasa (12/05/2026).

Padahal, jika merujuk pada data Wikipedia, Gunung Kayangan yang mulai dikembangkan sejak 2017 ini merupakan destinasi favorit yang dikenal karena lokasinya yang strategis, hanya sekitar 6 km dari pusat kota Pelaihari dan 1,5 jam dari Banjarmasin.

Destinasi ini dulu menjadi primadona karena pemandangan perkebunan sawit PTPN XIII dari puncak bukit dan ikon tulisan besar “TANAH LAUT” yang menyerupai tulisan Hollywood di Amerika Serikat.

Kontras Kemegahan dan KerusakanPantauan tim di lapangan pada Selasa siang menunjukkan pemandangan yang kontras. Tepat di bagian depan, berdiri kokoh sebuah bangunan religi yang sangat indah dan megah, yakni Masjid Hj Siti Maryam. Namun, tepat di sampingnya, gerbang bertuliskan “Wisata Gunung Kayangan” justru menjadi pintu masuk menuju kawasan yang tampak “mati”.

Akses jalan aspal menuju puncak sudah mulai hancur dan berlubang. Sementara itu, bangunan fasilitas seperti tempat istirahat terlihat sangat memprihatinkan dengan atap yang jebol, cat mengelupas, serta lantai yang dipenuhi lumut hijau dan semak belukar.

Kondisi ini dibenarkan warga yang merindukan keramaian masa lalu. Seorang warga yang ditemui di lokasi mengungkapkan rasa sedihnya melihat kondisi ikon daerah tersebut.

“Gunung Kayangan sekarang sepi, terbengkalai Sangat disayangkan sekali, padahal dulu di sini ramai orang jualan, orang foto-foto. Sekarang malah mirip tempat horor,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya itu kepada media.

Menanti Langkah Pemerintah

Laporan mengenai terbengkalainya aset daerah ini sebenarnya sudah mulai mencuat sejak tahun 2024 dan 2025. Mengutip laporan dari LenteraKalimantan.com pada tahun 2024, Plt Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Laut, Muhammad Syahid, sempat menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pemetaan (mapping) untuk masa depan kawasan ini.

“Wisata Gunung Kayangan ini memang sudah beberapa kali dilirik oleh pihak ketiga yang berminat investasi. Akan tetapi sampai sekarang ini tidak ada satupun kelanjutannya,” ujar Syahid.

Senada dengan hal tersebut, opini yang diterbitkan Kalimantanpost.com pada 2025, juga menyoroti bahwa terbengkalainya potensi “emas” ini berdampak langsung pada matinya roda ekonomi UMKM lokal. Padahal, secara konstitusi dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, kekayaan alam seharusnya dikelola negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Harapan Revitalisasi

Meski kini lingkungan sekitar ditumbuhi rumput liar dan fasilitas bermain rusak parah, harapan agar Gunung Kayangan kembali bersinar tetap ada. Masyarakat berharap visi “Tanah Laut Berinteraksi” bukan sekadar slogan, melainkan langkah nyata untuk menyelamatkan aset wisata yang kini terkesan “horor” tersebut sebelum benar-benar menjadi cerita masa lalu.